Maulid Nabi
Diluar perdebatan tentang hukum dari peringatan maulid ini antara pihak yang membolehkan dan yang melarang, faktanya di sini, di Indonesia peringatan ini sangat marak diperingati dengan waktu yang berlarut-larut sehingga tampak sangat meriah.
Maulid Nabi Muhammad SAW 2020 jatuh pada Rabu (28/10/2020), sedangkan pada tahun ini perayaan dilaksanakan pada Senin (18/10/2021). Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berkembang di masa Wali Songo.
Masyarakat muslim Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan membaca sholawat nabi, syair Barzanji, dan pengajian. Maulid Nabi Muhammad memiliki sebutan berbeda di beberapa daerah misal perayaan Syahadatin, Gerebeg Mulud, atau tradisi endhog-endhogan di Jawa Timur.Berikut ini akan kami sajikan dua versi dari sejarah munculnya perayaan maulid, masing-masingnya adalah sebagai berikut :
Versi Sultan Salahuddin
Jurnal tersebut juga menjelaskan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW yang berasal dari masa pemerintahan Sultan Salahudin Al Ayubi. Sultan ingin meningkatkan semangat juang dan persatuan kaum muslim, dengan meningkatkan kecintaan pada nabinya.
Usul perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sempat mendapat penolakan dari para ulama, karena dinilai tak sesuai ajaran Islam. Sultan kemudian menjelaskan, perayaan hanya bersifat syiar keagamaan bukan ritual. Perayaan juga bukan sekadar peringatan ulang tahun.
Setelah mendengar alasan ini, Khalifah An-Nashir di Bagdad menyetujui usul sang sultan. Selanjutnya di musim haji 1183 Masehi, sang sultan meminta para jamaah menyiarkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di negara asalnya pada 12 Rabiul Awal.
Versi dinasti Fathimiyah
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan pada zaman khalifah Mu'iz li Dinillah. Dia adalah khalifah dinasti Fathimiyah di Mesir yang
hidup pada tahun 341 Hijriyah. Perayaan ini dilarang di masa Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy, seorang perdana menteri khalifah Al-Musta'ali dinasti Fathimiyah.
Maulid Nabi kembali dibolehkan pada masa pemerintahan Amir li Ahkamillah pada tahun 524 Hijriah. Dia adalah pemimpin sekaligus imam di Dinasti Fathimiyah. Pendapat ini dinyatakan sejarawan dan ulama asal Mesir Syamsuddin as-Sakhawi.
Pendapat lain tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW menyatakan, peringatan pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan khalifah Mudhaffar Abu Said. Sang khalifah saat itu sedang mencari cara membangkitkan heroisme kaum muslim menghadapi Jengis Khan.
Acara diadakan besar-besaran untuk memperlihatkan kebesaran Islam dan negara yang dipimpinnya. Sang khalifah berkuasa di bawah bendera dinasti Fathimiyah. Wilayah kekuasaan dinasti meliputi Afrika Utara, Mesir, dan Suriah.
Perayaan dilakukan tujuh hari tujuh malam dengan hidangan berasal dari 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas dan 30 ribu piring makanan. Peringatan ini dikatakan sukses meningkatkan moral dan heroisme kaum muslim.
Arti maulid memiliki persamaan dengan kata midad yang diambil dari Bahasa Arab dengan arti “Hari Lahir” peringatan terhadap kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW ternyata bukanlah tradisi yang ada ketika Rasulullah SAW hidup tetapi perayaan ini menjadi tradisi yang berkembang luas dalam masyarakat dan menjadi tradisi yang berkembang di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia ini sendiri, masyarakat Indonesia tentunya sudah tidak asing ketika mendengar Maulid Nabi karena mereka akan langsung menyambutnya dengan senang hati dan memenuhi kemeriahan acara maulid Nabi Muhammad SAW.
Jurnal tersebut juga menjelaskan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW yang berasal dari masa pemerintahan Sultan Salahudin Al Ayubi. Sultan ingin meningkatkan semangat juang dan persatuan kaum muslim, dengan meningkatkan kecintaan pada nabinya.
Usul perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sempat mendapat penolakan dari para ulama, karena dinilai tak sesuai ajaran Islam. Sultan kemudian menjelaskan, perayaan hanya bersifat syiar keagamaan bukan ritual. Perayaan juga bukan sekadar peringatan ulang tahun.
Setelah mendengar alasan ini, Khalifah An-Nashir di Bagdad menyetujui usul sang sultan. Selanjutnya di musim haji 1183 Masehi, sang sultan meminta para jamaah menyiarkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di negara asalnya pada 12 Rabiul Awal.
Versi dinasti Fathimiyah
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan pada zaman khalifah Mu'iz li Dinillah. Dia adalah khalifah dinasti Fathimiyah di Mesir yang
hidup pada tahun 341 Hijriyah. Perayaan ini dilarang di masa Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy, seorang perdana menteri khalifah Al-Musta'ali dinasti Fathimiyah.
Maulid Nabi kembali dibolehkan pada masa pemerintahan Amir li Ahkamillah pada tahun 524 Hijriah. Dia adalah pemimpin sekaligus imam di Dinasti Fathimiyah. Pendapat ini dinyatakan sejarawan dan ulama asal Mesir Syamsuddin as-Sakhawi.
Pendapat lain tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW menyatakan, peringatan pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan khalifah Mudhaffar Abu Said. Sang khalifah saat itu sedang mencari cara membangkitkan heroisme kaum muslim menghadapi Jengis Khan.
Acara diadakan besar-besaran untuk memperlihatkan kebesaran Islam dan negara yang dipimpinnya. Sang khalifah berkuasa di bawah bendera dinasti Fathimiyah. Wilayah kekuasaan dinasti meliputi Afrika Utara, Mesir, dan Suriah.
Perayaan dilakukan tujuh hari tujuh malam dengan hidangan berasal dari 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas dan 30 ribu piring makanan. Peringatan ini dikatakan sukses meningkatkan moral dan heroisme kaum muslim.
Arti maulid memiliki persamaan dengan kata midad yang diambil dari Bahasa Arab dengan arti “Hari Lahir” peringatan terhadap kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW ternyata bukanlah tradisi yang ada ketika Rasulullah SAW hidup tetapi perayaan ini menjadi tradisi yang berkembang luas dalam masyarakat dan menjadi tradisi yang berkembang di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia ini sendiri, masyarakat Indonesia tentunya sudah tidak asing ketika mendengar Maulid Nabi karena mereka akan langsung menyambutnya dengan senang hati dan memenuhi kemeriahan acara maulid Nabi Muhammad SAW.
0 Response to "Maulid Nabi"
Posting Komentar